Lupus Bukan Halangan Untuk Tetap Semangat Menjalani Hidup

Suatu hari saya, Bunga, Bella, Fika, Puji, Dini, Lani, Windy, Ambar, Imam, Pujo, Bagus, Sony, Arina dan Puji, sebagai teman-teman dari UPN ‘Veteran’ Jakarta tempat kami semua menjalani masa kuliah. Saat ini Fanisa sedang melawan penyakitnya yaitu Lupus, dimana sistem kekebalan tubuh yang secara normal berfungsi untuk melindung tubuh membentuk antibodi dan berbalik menyerang jaringan sehat dan organ yang menyebabkan peradangan dan kerusakan pada berbagai jaringan tubuh lainnya.

Penyakit yang sudah dideritanya sejak kelas 1 SMA ini sudah menjadi teman sehari hari Faniza hingga sekarang ini. Saat kami semua datang menjenguk Faniza, terlihat kamar yang berisikan 1 buah tempat tidur menghadap pintu dan diatasnya terbaring Faniza. Hidungnya yang terpasang selang oksigen untuk membantu pernafasannya yang sulit serta tangan kirinya yang masih terpasang jarum nutrisi tanpa selang nutrisi yang mengalir melalui tangannya menyambut kedatangan kami dengan penuh senyuman manis dari wajahnya.

Faniza sudah tidak mau selang nutrisi terpasang ditangannya, karena tangannya menjadi memar. Bukan hanya itu, ketika suster datang untuk mengambil darahnya, tidak dapat ditangan yang satu lalu cari lagi ditangan yang lain dan tempat yang berbeda-beda. Sehingga tangannya menjadi memar akibat selesai pengambilan darah.

“Ka maaf ya, gara-gara aku sakit jadi aku enga bisa ikut ke puncak buat jalan-jalan, maaf banget ya ka,” ujar Faniza sambil ditemani oleh ibu dan adiknya. “Iya enga apa-apa ko, yang penting Faniza sembuh dulu,” ujar Lani menjelaskan.

Karena waktu kedatangan kami ke Rumah sakit malam hari, sehingga kami tidak berlama-lama disana dan meninggalkan Faniza untuk istirahat. Terlihat jelas diwajahnya rasa tak ingin berpisah dengan kami, dan masih ingin bercengkrama. Kami semua berpamitan dengan Faniza serta ibu dan adiknya untuk kembali kerumah masih-masing. Didepan pintu kamarnya kami semua perpelukan sambil menahan air mata yang tak terbendung lagi.

Hari demi haripun berselang dengan cepatnya, saya berencana untuk kembali menjenguk Faniza di Rumah sakit. “Faniza udah sembuh belum si?” ujar saya bertanya pada Fika, “belum ka, kenapa? mau jenguk laginya?” “iya, kapannya enaknya? Oh iya, jumat aja kan libur tuh” “oh iya ya, ya udah jumat, jam berapa ka?” “sekitar jam 1an lah, gimana?” “emmm ok deh klo gitu”.

Satu hari sebelumnya saya memastikan kembali jadi atau tidaknya menjenguk Faniza di Rumah sakit yang sama. Pada hari yang telah ditentukan sebelumya, saya dan Fika bertemu di pasar swalayan daerah Cirendeu Tangerang Selatan. Ternyata saya yang lebih dulu sampai, tak lama menunggu Fika datang dengan menggunakan kendaraan roda dua kesayangannya.

Langsung saja saya dan Fika menuju ke Rumah sakit tempat Faniza dirawat. Sesampainya di Rumah sakit, Fika langsung memarkirkan kendaraannya dan kamipun langsung menuju lantai 2 letak kamar Faniza berada. Tampak lorong lorong Rumah sakit sepi oleh pengunjung dan petugas rumah sakit. Sesampainya di kamar 305, sepi tanpa 1 orangpun di dalamnya.

Kamipun langsung bertanya pada petugas Rumah sakit “pasien di kamar 305 udah pulangnya?” ujar saya pada salah satu petugas lengkap dengan pakaian rumah sakitnya “atas nama siapa ya?” ujar petugas tersebut atas nama Faniza FatmaAstika” “oh Faniza, udah pulang dari seminggu yang lalu” “oh gitu, ya udah makasih ya mas” ujar saya mengakhiri percakapan.

Kami berfikir bahwa Faniza sudah sembuh dari sakitnya, dan kami sangat bersyukur dapat melihat Faniza kembali tersenyum. “Syukur deh Faniza udah sembuh, tapi nanggung banget ga ketemu sama Faniza. Apa kerumahnya aja yah?” ujar saya bertanya pada Fika  “ya udah kerumah aja yuk ka, tapi aku lupa jalan ke rumahnya kalau rumahnya tau” “ya udah telfon aja Fanizanya minta alamat rumanya”. Fikapun langsung bergegas menelfon Faniza dan meminta alamat rumahnya.

Tak lama menunggu, dapatlah alamat rumah Faniza. Kami langsung bergegas menuju rumah Faniza yang lokasinya tidak jauh dari Rumah sakit tempat Faniza dirawat kemarin. Kira-kira 15 menit berselang, sampailah kami di rumah Faniza. Kedatangan kami disambut oleh adik Faniza, karena Faniza masih sakit dan terbaring lemas di kamarnya.

Rumah yang tampak minimalis yang berada dalam lingkungan komplek MA Pamulang dan berada di ujung jalan sudah terlihat kesejukankan melalui penataan tanaman yang teratur. Didalam rumahnya terparkir sebuah mobil sedan dan sebuah motor matic. Langit-langitnya tergantung beberapa sangkar burung serta berbagai burung didalamnya.

Kami langsung diarahkan menuju kamar tempat Faniza terbaring, ruangan yang dingin menandakan kamar tersebut terpasang AC dan sedang menyala. Selang oksigen masih terpasang dihidungnya, kondisinya tidak banyak berubah  setelah kepulangannya dari Rumah sakit beberapa hari yang lalu.

Saat ini Faniza tergabung dalam Yayasan Lupus Indonesia cabang Bandung. Yayasan Lupus Indonesia cabang Jakarta sudah penuh, sehingga ia mendaftar di cabang Bandung. Dalam yayasan tersebut banyak teman-teman satu yayasannya yang dapat dilihat lebih parah dari yang Faniza alami. Bahkan sampai ada yang duduk dikursi roda untuk berjalan saja sudah tidak mampu.

Lupus sendiri ada berbagai macamnya, sedangkan lupus yang Faniza derita adalah discoid lupus dimana lupus hanya mempengaruhi kulit seperti penebalan kulit, kulit memerah, munculnya ruam yang bersisik pada daerah leher wajah dan kulit kepala. Kulitnya yang putih, nampak jelas memar seperti terbentok sesuatu hingga biru. “Ini kaki aku aja pada biru karena ada pembuluh darah yang pecah dibawah kulit jadinya biru deh,” ujar Faniza sambil menunjukkan kakinya yang biru.

Jika sudah memar seperti itu, Faniza memberikan obat salep Dermatik yang mudah didapatkan di apotik manapun. Jika diolesi lama lama memarnya hilang tapi membutuhkan waktu yang cukup lama, lalu Faniza mendapatkan obat dari dokternya yang memang khusus untuk kulit memar seperti itu.

Faniza jadi kurang Percaya Diri (PD) untuk pakai rok pendek karena kakinya yang biru memar. “Mungkin aku disuruh sama Allah untuk berpakaian tertutup jangan pakai pakaian yang seksi lagi.” Bukan hanya itu, Faniza harus menjaga tubuhnya agar tidak terpentok benda keras, jika sudah terpentok maka kulitnya yang putih berubah menjadi biru. Faniza juga tidak bisa terkena sinar matahari langsung, jika ia pergi keluar rumah ia harus menggunakan masker, baju lengan panjang serta sarung tangan agar matahari tidak langsung menyinari dirinya.

Setiap harinya, Faniza harus meminum 13 macam obat yang berbeda selama 3 kali berturut turut. Ada obat yang tablet dan ada juga yang kapsul semuanya harus diminum tanpa terkecuali. Bahkan ada obat yang menurut Faniza sangatlah pahit untuk diminum, Faniza menyebutnya obat ranjau karena pahitnya itu.

Sebelumnya Faniza diberikan obat untuk menjaga ginjalnya agar tetap berfungsi dengan baik. Hal yang ditakutkan oleh dokter Martin (dokter yang menangani Faniza saat ini) adalah ketika sedang dalam pengobatan seperti ini dan efek jangka panjang akibat obat yang dikonsumsi Faniza selama ini dapat mempengaruhi ginjalnya. Tapi setelah dicek, ternyata ginjalnya tidak apa-apa sehingga Faniza berhenti meminum obat untuk menjaga ginjalnya.

Jika dosis obat yang diberikan dokter terlalu tinggi, maka wajah cantiknya jadi membengkak biasanya disebut dengan wajah bulan atau Moon Face. Wajah bulan atau Moon Face merupakan pembekakan pada wajah sehingga wajah terlihat gemuk sedangkan badannya terlihat biasa saja tanpa ada tanda-tanda gemuk. Setelah kejadian seperti itu, obat-obat yang diberikan oleh dokternya diturunkan dosisnya agar wajahnya kembali normal. Setelah dosis obatnya diturunkan, wajah Faniza kembali normal seperti semula.

Walapun keadaannya sudah seperti ini Faniza sudah bersyukur karena lupinya tidak menyerang wajahnya. Bahkan teman-temannya yang satu yayasan dengannya sampai ada yang ruam merah diwajahnya berbentuk mirip kupu-kupu atau butterfly rush di kedua pipinya.

Sejak SMA hingga kuliah semester awal lupi (begitulah sebutan untuk penyakit yang dideritanya) baik-baik saja, tidak menunjukkan tanda-tanda yang berarti. Semenjak semester 2 sampai sekarang ini, Faniza sering bolak-balik harus menginap dirumah sakit karena lupinya sedang kambuh.

“Ga tau nih lupi aku lagi bandel banget sampe aku mesti bolak-balik ke rumah sakit mulu,” ujar wanita kelahiran 1994 ini. Kadang Faniza sering merasa jantungnya berdetak dengan kencangnya, bahkan baju yang ia kenakan sampai bergetar mengikuti detak jantung.

“Akhirnya aku ke dokter jantung di Fatmawati katanya jantung aku bocor tapi ketika aku pergi kedokter yang berbeda, dokter itu malah bilang katanya jantung aku ada pembengkakan. Kan aku jadi bingung mana yang bener yang satu bilang jantung aku bocor tapi yang satu lagi bilang jantung aku ada pembekakan.”

Akhirnya Faniza pergi ke dokter Martin, menurut dokter Martin, lupusnya belum sampai ke jantungnya dan dokter Martin sendiri bingung apa penyebabnya. Bukan hanya itu jari kakinya berwarna orange seperti habis pakai pacar kuku. Begitu ditanyakan kedokter, dokter malah bertanya balik ke Faniza.

“Untung aja kuku kaki aku enga biru, klo sampai biru udah ke jantung itu” ujar Faniza menjelakan. Langsung saja saya dan Fika mencairkan suasana dengan bercanda mengenai kuku yang biru. Faniza langsung tertawa dengan riangnya melihat kami berdua bercanda.

Faniza sendiri pernah marah dan bertanya-tanya kepada penciptanya “kenapa harus aku yang menderita penyakit ini, kenapa bukan orang lain. Tapi setelah seperti itu aku sadar mungkin ini ujian dari Allah untuk aku mencapai ke tingkat selanjutnya atau mungkin juga Allah sayang sama aku dan ini merupakan jalan untuk menghapus dosa-dosa aku yang kemarin,” ujarnya sambil bercerita.

Mendengar ucapan Faniza yang begitu sabar menghadapi ujian dari penciptanya air mata saya rasa ingin mengalir. Faniza begitu sabar dan iklas menerima segala yang diberikan sang pencipta untuknya. Sempat juga ia berfikir dengan keadaannya yang seperti ini, masih adakah laki-laki yang mencintainya dengan tulus dan iklas.

Laki-laki itu memang ada, menemani dan menjaga Faniza baik suka maupun duka. Mencintai Faniza dengan tulus dan iklas serta memahami dengan sepenuh hati tentang penyakit yang dideritanya. Anugrah Pratama, orang yang mencintai Faniza dengan hatinya.

“Waktu itu dia nembak aku pas lagi nonton dibioskop, dia bilang aku suka sama kamu aku mau jadi pacar kamu. Aku pikir dia enga tau tentang penyakit aku sama sekali tapi ternyata dia tau, dia cari tau dari temen-temen aku. Bahkan aku sering enga masuk kuliah dia sampai tahu. Trus aku bilang aja gini tapi kamu enga tau kan tentang aku sama sekali, aku tau kamu sakit lupus dan jantungkan. Aku kaget banget ternyata dia tau semua tentang aku bahkan tentang penyakit aku semuanya.”

Saat Faniza terbaring di rumah sakit Anugrah ikut serta mememani Faniza yang sedang sakit. Anugrah merupakan mahasiswa fakultas hukum di universitas yang sama dengan Faniza. Bahkan Anugrah satu angkatan dengan Faniza hanya yang membedakan fakultasnya saja.

Awalnya Faniza ragu untuk menjalani komitmen berpacaran dengan Anugrah, takut suatu saat nanti Anugrah pergi meninggalkan Faniza. Tapi keraguan Faniza akan hal itu hilang seiring dengan berjalannya waktu dan kepercayaan yang ditanamkan Anugrah pada Faniza.

“Sempat pacar aku tuh nangis di samping aku, pas aku lagi dirawat di rumah sakit. Aku sama sekali ga tau kalau pacar akutuh nangis, yang ngeliat ibu aku, trus ibu aku cerita sama aku,” ujar Faniza sambil mengenang.

Sebetulnya dari lubuh hatinya Faniza ingin sekali lupinya ini pergi darinya, Faniza sendiri sudah lelah merasakan lupinya ketika kambuh. Harus dilarikan kerumah sakit setiap kali kambuh, dan harus minum berbagai macam obat untuk setiap harinya.

Faniza rindu ketika masa-masa ia dapat berjalan, berlari, berolah raga, bermain bersama teman-temannya dan lain sebagainya yang dulu pernah ia rasakan. Kini hal terssebut sulit untuk dirasakan olehnya, karena ia harus berbaring diatas tempat tidur.

Sekarang untuk duduk aja sudah kelelahan dan nafasnya sampai terengah-engah seperti habis berlari yang sangat jauhnya apa lagi berjalan, berjalan sedikit saja Faniza sudah menunjukkan rasa kelelahannya. Untuk sekarang ini, olah raga yang dapat ia lakukan hanya meremas-remas jarinya untuk melatih jantungnya. Saran dari dokter Martin, Faniza dapat berolah raga ringan seperti olah raga yoga untuk melatih pernafasannya agar lancar.

Penyakit yang diderita Faniza memang membutuhkan istirahat yang banyak dan tidak boleh kelelahan sedikitpun. Kuliah yang harus dijalaninya setiap harinya berada di lantai 3 dan 4, sehingga Faniza harus menaiki anak tangga untuk mencapai kelas dimana kuliah itu berlangsung.

Tempat Faniza kuliah memang tidak difasilitasi oleh lift, sehingga baik mahasiswa ataupun dosen harus menaiki anak tangga. Begitu dokter Martin tahu bahwa tempat Faniza kuliah tidak difasilitasi oleh lift, dokter martin langsung kaget dan hanya membolehkan Faniza untuk menaiki anak tangga sampai lantai 2 saja.

Dokter martin lalu menyarankan Faniza untuk pindah kuliah dan mencari universitas yang menyediakan lift bagi mahasiswanya serta dosen. “Dokter aku begitu tau kalau aku mesti menaiki anak tangga untuk sampai kelantai 3 dan 4 kaget banget, dokter Martin hanya memperbolehkan aku maksimal sampai lantai 2 saja. Mau ga mau aku harus pindah kuliah yang ada liftnya,” ujar wanita berambut pendek sebahu ini.

Sudah 3 minggu Faniza tidak mengikuti mata kuliah yang sedag berlangsung untuk menghadapi Ujian Tengah Semester (UTS) nanti. Sebetulnya Faniza ingin mengikuti kuliah yang berlangsung bersama teman-temannya, sayangnya tubuhnya tidak memungkinkan Faniza untuk beraktifitas seperti teman-temannya.

Orangtua Faniza sempat menemui pihak Fakultasnya untuk meminta cuti bagi anaknya, sayangnya hal tersebut tidak bisa karena Faniza sudah terlanjur mengisi jadwal kuliah dan harus membayar sebesar 3 juta lebih. Faniza juga mendapatkan keringanan dari dosennya untuk mengikuti UTSnya bukan di ruang kelas tetapi di ruang dikjar.

Walaupun Faniza terhalang oleh sakit yang dideritanya, Faniza tetap semangat dan tetap ingin menjalankan apa yang ia inginkan. Sebelumnya Faniza tergabung dalam organisasi kemahasiswaan Aspirasi dan juga kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa atau BEM di Fakultasnya.

Ketika Faniza menunjukkan tanda-tanda ketidak sehatan yang secara terus-menerus dan harus bolak balik kerumah sakit. Orangtua Faniza meminta Faniza untuk keluar dari kegiatan kemahasiswaannya di fakultas yaitu BEM.

Seiring waktu berjalan dan Faniza tidak kunjung membaik kondisi kesehatannya, orangtuanya kembali meminta Faniza untuk keluar dari organisasinya di Aspirasi. Faniza tidak mau jika harus keluar dari organisasinya di Aspirasi. Karena Faniza sudah terlanjur sayang pada Aspirasi dan orang orang yang ada di Aspirasi.

Ketika ada kerusuhan di Universitas Pamulang atau biasa disebut UnPam, Faniza ingin sekali pergi kesana dan meliput kejadian yang ada disana. Sayangnya saat kejadian tersebut Faniza sedang sakit sehingga tidak bisa pergi kesana. “Sayang banget pas aku lagi sakit kejadiannya, coba kalau enga pasti aku liput dan aku kasih hasil laporannya ke Aspirasi”.

Karena keterbatasannya tidak bisa meliput, latas Faniza menghubugi temannya yang suka fotografi untuk meliput kejadian tersebut. Sayangnya, temannya sedang tidak ada di Jakarta, ia sedang pergi keluar kota untuk urusan tertentu.

Faniza sempat berfikir untuk meminta tolong pada temannya di Aspirasi untuk meliput kejadian tersebut. Tapi setelah difikir ulang oleh Faniza takutnya lagi ada jam kuliah, sehingga Faniza mengurungkan niatnya untuk dimintai tolong pada teman-temannya di Aspirasi.

Terkadang Faniza rindu dan merasa kesepian terhadap teman-teman kuliahnya. Ingin melakukan aktifitas seperti dulu sebelum Faniza terserang penyakit lupus ini. Faniza juga sempat berfikir untuk belajar mandiri dan ingin ngekos untuk dekat dengan kampusnya.

Sayangnya hal tersebut tidak mendapat izin dari orangtuanya, karena dikhawatirkan jika terjadi apa-apa dan suatu saat penyakitnya kambuh tidak ada orang didekatnya untuk dimintai tolong. Faniza akhirnya tetap tinggal dengan kedua orangtuanya hingga kini.

Faniza berencana untuk pindah kuliah semester depan nanti, dikarenakan fasilitas kampusnya saat ini tidak memungkinkan untuk dirinya lagi. Rencananya Faniza ingin kuliah di Universitas Terbuka atau UT, tapi sayangnya sistem perkuliahan disana belajar di rumah atau belajar sendiri. Faniza tidak suka dengan sitem perkuliahan yang seperti itu, yang ada Faniza semakin merasa kesepian karena tidak ada teman yang menemani.

Harapannya saat ini cuma satu yaitu sembuh dari sakit yang dideritanya saat ini dan kembali berkumpul bersama teman temannya yang sangat ia rindukan. Faniza berencana untuk membuatkan makanan hasil masakannya sendiri. “Ka aku udah bisa masak spageti dong, nanti kalau aku udah sembuh aku masakin deh spageti buatan aku nanti aku bawa ke sekret buat dimakan bareng bareng,” ujar Faniza sambil berhayal kesembuhannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: