Lupus Bukan Halangan Untuk Tetap Semangat Menjalani Hidup

Suatu hari saya, Bunga, Bella, Fika, Puji, Dini, Lani, Windy, Ambar, Imam, Pujo, Bagus, Sony, Arina dan Puji, sebagai teman-teman dari UPN ‘Veteran’ Jakarta tempat kami semua menjalani masa kuliah. Saat ini Fanisa sedang melawan penyakitnya yaitu Lupus, dimana sistem kekebalan tubuh yang secara normal berfungsi untuk melindung tubuh membentuk antibodi dan berbalik menyerang jaringan sehat dan organ yang menyebabkan peradangan dan kerusakan pada berbagai jaringan tubuh lainnya.

Penyakit yang sudah dideritanya sejak kelas 1 SMA ini sudah menjadi teman sehari hari Faniza hingga sekarang ini. Saat kami semua datang menjenguk Faniza, terlihat kamar yang berisikan 1 buah tempat tidur menghadap pintu dan diatasnya terbaring Faniza. Hidungnya yang terpasang selang oksigen untuk membantu pernafasannya yang sulit serta tangan kirinya yang masih terpasang jarum nutrisi tanpa selang nutrisi yang mengalir melalui tangannya menyambut kedatangan kami dengan penuh senyuman manis dari wajahnya.

Faniza sudah tidak mau selang nutrisi terpasang ditangannya, karena tangannya menjadi memar. Bukan hanya itu, ketika suster datang untuk mengambil darahnya, tidak dapat ditangan yang satu lalu cari lagi ditangan yang lain dan tempat yang berbeda-beda. Sehingga tangannya menjadi memar akibat selesai pengambilan darah.

“Ka maaf ya, gara-gara aku sakit jadi aku enga bisa ikut ke puncak buat jalan-jalan, maaf banget ya ka,” ujar Faniza sambil ditemani oleh ibu dan adiknya. “Iya enga apa-apa ko, yang penting Faniza sembuh dulu,” ujar Lani menjelaskan.

Karena waktu kedatangan kami ke Rumah sakit malam hari, sehingga kami tidak berlama-lama disana dan meninggalkan Faniza untuk istirahat. Terlihat jelas diwajahnya rasa tak ingin berpisah dengan kami, dan masih ingin bercengkrama. Kami semua berpamitan dengan Faniza serta ibu dan adiknya untuk kembali kerumah masih-masing. Didepan pintu kamarnya kami semua perpelukan sambil menahan air mata yang tak terbendung lagi.

Hari demi haripun berselang dengan cepatnya, saya berencana untuk kembali menjenguk Faniza di Rumah sakit. “Faniza udah sembuh belum si?” ujar saya bertanya pada Fika, “belum ka, kenapa? mau jenguk laginya?” “iya, kapannya enaknya? Oh iya, jumat aja kan libur tuh” “oh iya ya, ya udah jumat, jam berapa ka?” “sekitar jam 1an lah, gimana?” “emmm ok deh klo gitu”.

Satu hari sebelumnya saya memastikan kembali jadi atau tidaknya menjenguk Faniza di Rumah sakit yang sama. Pada hari yang telah ditentukan sebelumya, saya dan Fika bertemu di pasar swalayan daerah Cirendeu Tangerang Selatan. Ternyata saya yang lebih dulu sampai, tak lama menunggu Fika datang dengan menggunakan kendaraan roda dua kesayangannya.

Langsung saja saya dan Fika menuju ke Rumah sakit tempat Faniza dirawat. Sesampainya di Rumah sakit, Fika langsung memarkirkan kendaraannya dan kamipun langsung menuju lantai 2 letak kamar Faniza berada. Tampak lorong lorong Rumah sakit sepi oleh pengunjung dan petugas rumah sakit. Sesampainya di kamar 305, sepi tanpa 1 orangpun di dalamnya.

Kamipun langsung bertanya pada petugas Rumah sakit “pasien di kamar 305 udah pulangnya?” ujar saya pada salah satu petugas lengkap dengan pakaian rumah sakitnya “atas nama siapa ya?” ujar petugas tersebut atas nama Faniza FatmaAstika” “oh Faniza, udah pulang dari seminggu yang lalu” “oh gitu, ya udah makasih ya mas” ujar saya mengakhiri percakapan.

Kami berfikir bahwa Faniza sudah sembuh dari sakitnya, dan kami sangat bersyukur dapat melihat Faniza kembali tersenyum. “Syukur deh Faniza udah sembuh, tapi nanggung banget ga ketemu sama Faniza. Apa kerumahnya aja yah?” ujar saya bertanya pada Fika  “ya udah kerumah aja yuk ka, tapi aku lupa jalan ke rumahnya kalau rumahnya tau” “ya udah telfon aja Fanizanya minta alamat rumanya”. Fikapun langsung bergegas menelfon Faniza dan meminta alamat rumahnya.

Tak lama menunggu, dapatlah alamat rumah Faniza. Kami langsung bergegas menuju rumah Faniza yang lokasinya tidak jauh dari Rumah sakit tempat Faniza dirawat kemarin. Kira-kira 15 menit berselang, sampailah kami di rumah Faniza. Kedatangan kami disambut oleh adik Faniza, karena Faniza masih sakit dan terbaring lemas di kamarnya.

Rumah yang tampak minimalis yang berada dalam lingkungan komplek MA Pamulang dan berada di ujung jalan sudah terlihat kesejukankan melalui penataan tanaman yang teratur. Didalam rumahnya terparkir sebuah mobil sedan dan sebuah motor matic. Langit-langitnya tergantung beberapa sangkar burung serta berbagai burung didalamnya.

Kami langsung diarahkan menuju kamar tempat Faniza terbaring, ruangan yang dingin menandakan kamar tersebut terpasang AC dan sedang menyala. Selang oksigen masih terpasang dihidungnya, kondisinya tidak banyak berubah  setelah kepulangannya dari Rumah sakit beberapa hari yang lalu.

Saat ini Faniza tergabung dalam Yayasan Lupus Indonesia cabang Bandung. Yayasan Lupus Indonesia cabang Jakarta sudah penuh, sehingga ia mendaftar di cabang Bandung. Dalam yayasan tersebut banyak teman-teman satu yayasannya yang dapat dilihat lebih parah dari yang Faniza alami. Bahkan sampai ada yang duduk dikursi roda untuk berjalan saja sudah tidak mampu.

Lupus sendiri ada berbagai macamnya, sedangkan lupus yang Faniza derita adalah discoid lupus dimana lupus hanya mempengaruhi kulit seperti penebalan kulit, kulit memerah, munculnya ruam yang bersisik pada daerah leher wajah dan kulit kepala. Kulitnya yang putih, nampak jelas memar seperti terbentok sesuatu hingga biru. “Ini kaki aku aja pada biru karena ada pembuluh darah yang pecah dibawah kulit jadinya biru deh,” ujar Faniza sambil menunjukkan kakinya yang biru.

Jika sudah memar seperti itu, Faniza memberikan obat salep Dermatik yang mudah didapatkan di apotik manapun. Jika diolesi lama lama memarnya hilang tapi membutuhkan waktu yang cukup lama, lalu Faniza mendapatkan obat dari dokternya yang memang khusus untuk kulit memar seperti itu.

Faniza jadi kurang Percaya Diri (PD) untuk pakai rok pendek karena kakinya yang biru memar. “Mungkin aku disuruh sama Allah untuk berpakaian tertutup jangan pakai pakaian yang seksi lagi.” Bukan hanya itu, Faniza harus menjaga tubuhnya agar tidak terpentok benda keras, jika sudah terpentok maka kulitnya yang putih berubah menjadi biru. Faniza juga tidak bisa terkena sinar matahari langsung, jika ia pergi keluar rumah ia harus menggunakan masker, baju lengan panjang serta sarung tangan agar matahari tidak langsung menyinari dirinya.

Setiap harinya, Faniza harus meminum 13 macam obat yang berbeda selama 3 kali berturut turut. Ada obat yang tablet dan ada juga yang kapsul semuanya harus diminum tanpa terkecuali. Bahkan ada obat yang menurut Faniza sangatlah pahit untuk diminum, Faniza menyebutnya obat ranjau karena pahitnya itu.

Sebelumnya Faniza diberikan obat untuk menjaga ginjalnya agar tetap berfungsi dengan baik. Hal yang ditakutkan oleh dokter Martin (dokter yang menangani Faniza saat ini) adalah ketika sedang dalam pengobatan seperti ini dan efek jangka panjang akibat obat yang dikonsumsi Faniza selama ini dapat mempengaruhi ginjalnya. Tapi setelah dicek, ternyata ginjalnya tidak apa-apa sehingga Faniza berhenti meminum obat untuk menjaga ginjalnya.

Jika dosis obat yang diberikan dokter terlalu tinggi, maka wajah cantiknya jadi membengkak biasanya disebut dengan wajah bulan atau Moon Face. Wajah bulan atau Moon Face merupakan pembekakan pada wajah sehingga wajah terlihat gemuk sedangkan badannya terlihat biasa saja tanpa ada tanda-tanda gemuk. Setelah kejadian seperti itu, obat-obat yang diberikan oleh dokternya diturunkan dosisnya agar wajahnya kembali normal. Setelah dosis obatnya diturunkan, wajah Faniza kembali normal seperti semula.

Walapun keadaannya sudah seperti ini Faniza sudah bersyukur karena lupinya tidak menyerang wajahnya. Bahkan teman-temannya yang satu yayasan dengannya sampai ada yang ruam merah diwajahnya berbentuk mirip kupu-kupu atau butterfly rush di kedua pipinya.

Sejak SMA hingga kuliah semester awal lupi (begitulah sebutan untuk penyakit yang dideritanya) baik-baik saja, tidak menunjukkan tanda-tanda yang berarti. Semenjak semester 2 sampai sekarang ini, Faniza sering bolak-balik harus menginap dirumah sakit karena lupinya sedang kambuh.

“Ga tau nih lupi aku lagi bandel banget sampe aku mesti bolak-balik ke rumah sakit mulu,” ujar wanita kelahiran 1994 ini. Kadang Faniza sering merasa jantungnya berdetak dengan kencangnya, bahkan baju yang ia kenakan sampai bergetar mengikuti detak jantung.

“Akhirnya aku ke dokter jantung di Fatmawati katanya jantung aku bocor tapi ketika aku pergi kedokter yang berbeda, dokter itu malah bilang katanya jantung aku ada pembengkakan. Kan aku jadi bingung mana yang bener yang satu bilang jantung aku bocor tapi yang satu lagi bilang jantung aku ada pembekakan.”

Akhirnya Faniza pergi ke dokter Martin, menurut dokter Martin, lupusnya belum sampai ke jantungnya dan dokter Martin sendiri bingung apa penyebabnya. Bukan hanya itu jari kakinya berwarna orange seperti habis pakai pacar kuku. Begitu ditanyakan kedokter, dokter malah bertanya balik ke Faniza.

“Untung aja kuku kaki aku enga biru, klo sampai biru udah ke jantung itu” ujar Faniza menjelakan. Langsung saja saya dan Fika mencairkan suasana dengan bercanda mengenai kuku yang biru. Faniza langsung tertawa dengan riangnya melihat kami berdua bercanda.

Faniza sendiri pernah marah dan bertanya-tanya kepada penciptanya “kenapa harus aku yang menderita penyakit ini, kenapa bukan orang lain. Tapi setelah seperti itu aku sadar mungkin ini ujian dari Allah untuk aku mencapai ke tingkat selanjutnya atau mungkin juga Allah sayang sama aku dan ini merupakan jalan untuk menghapus dosa-dosa aku yang kemarin,” ujarnya sambil bercerita.

Mendengar ucapan Faniza yang begitu sabar menghadapi ujian dari penciptanya air mata saya rasa ingin mengalir. Faniza begitu sabar dan iklas menerima segala yang diberikan sang pencipta untuknya. Sempat juga ia berfikir dengan keadaannya yang seperti ini, masih adakah laki-laki yang mencintainya dengan tulus dan iklas.

Laki-laki itu memang ada, menemani dan menjaga Faniza baik suka maupun duka. Mencintai Faniza dengan tulus dan iklas serta memahami dengan sepenuh hati tentang penyakit yang dideritanya. Anugrah Pratama, orang yang mencintai Faniza dengan hatinya.

“Waktu itu dia nembak aku pas lagi nonton dibioskop, dia bilang aku suka sama kamu aku mau jadi pacar kamu. Aku pikir dia enga tau tentang penyakit aku sama sekali tapi ternyata dia tau, dia cari tau dari temen-temen aku. Bahkan aku sering enga masuk kuliah dia sampai tahu. Trus aku bilang aja gini tapi kamu enga tau kan tentang aku sama sekali, aku tau kamu sakit lupus dan jantungkan. Aku kaget banget ternyata dia tau semua tentang aku bahkan tentang penyakit aku semuanya.”

Saat Faniza terbaring di rumah sakit Anugrah ikut serta mememani Faniza yang sedang sakit. Anugrah merupakan mahasiswa fakultas hukum di universitas yang sama dengan Faniza. Bahkan Anugrah satu angkatan dengan Faniza hanya yang membedakan fakultasnya saja.

Awalnya Faniza ragu untuk menjalani komitmen berpacaran dengan Anugrah, takut suatu saat nanti Anugrah pergi meninggalkan Faniza. Tapi keraguan Faniza akan hal itu hilang seiring dengan berjalannya waktu dan kepercayaan yang ditanamkan Anugrah pada Faniza.

“Sempat pacar aku tuh nangis di samping aku, pas aku lagi dirawat di rumah sakit. Aku sama sekali ga tau kalau pacar akutuh nangis, yang ngeliat ibu aku, trus ibu aku cerita sama aku,” ujar Faniza sambil mengenang.

Sebetulnya dari lubuh hatinya Faniza ingin sekali lupinya ini pergi darinya, Faniza sendiri sudah lelah merasakan lupinya ketika kambuh. Harus dilarikan kerumah sakit setiap kali kambuh, dan harus minum berbagai macam obat untuk setiap harinya.

Faniza rindu ketika masa-masa ia dapat berjalan, berlari, berolah raga, bermain bersama teman-temannya dan lain sebagainya yang dulu pernah ia rasakan. Kini hal terssebut sulit untuk dirasakan olehnya, karena ia harus berbaring diatas tempat tidur.

Sekarang untuk duduk aja sudah kelelahan dan nafasnya sampai terengah-engah seperti habis berlari yang sangat jauhnya apa lagi berjalan, berjalan sedikit saja Faniza sudah menunjukkan rasa kelelahannya. Untuk sekarang ini, olah raga yang dapat ia lakukan hanya meremas-remas jarinya untuk melatih jantungnya. Saran dari dokter Martin, Faniza dapat berolah raga ringan seperti olah raga yoga untuk melatih pernafasannya agar lancar.

Penyakit yang diderita Faniza memang membutuhkan istirahat yang banyak dan tidak boleh kelelahan sedikitpun. Kuliah yang harus dijalaninya setiap harinya berada di lantai 3 dan 4, sehingga Faniza harus menaiki anak tangga untuk mencapai kelas dimana kuliah itu berlangsung.

Tempat Faniza kuliah memang tidak difasilitasi oleh lift, sehingga baik mahasiswa ataupun dosen harus menaiki anak tangga. Begitu dokter Martin tahu bahwa tempat Faniza kuliah tidak difasilitasi oleh lift, dokter martin langsung kaget dan hanya membolehkan Faniza untuk menaiki anak tangga sampai lantai 2 saja.

Dokter martin lalu menyarankan Faniza untuk pindah kuliah dan mencari universitas yang menyediakan lift bagi mahasiswanya serta dosen. “Dokter aku begitu tau kalau aku mesti menaiki anak tangga untuk sampai kelantai 3 dan 4 kaget banget, dokter Martin hanya memperbolehkan aku maksimal sampai lantai 2 saja. Mau ga mau aku harus pindah kuliah yang ada liftnya,” ujar wanita berambut pendek sebahu ini.

Sudah 3 minggu Faniza tidak mengikuti mata kuliah yang sedag berlangsung untuk menghadapi Ujian Tengah Semester (UTS) nanti. Sebetulnya Faniza ingin mengikuti kuliah yang berlangsung bersama teman-temannya, sayangnya tubuhnya tidak memungkinkan Faniza untuk beraktifitas seperti teman-temannya.

Orangtua Faniza sempat menemui pihak Fakultasnya untuk meminta cuti bagi anaknya, sayangnya hal tersebut tidak bisa karena Faniza sudah terlanjur mengisi jadwal kuliah dan harus membayar sebesar 3 juta lebih. Faniza juga mendapatkan keringanan dari dosennya untuk mengikuti UTSnya bukan di ruang kelas tetapi di ruang dikjar.

Walaupun Faniza terhalang oleh sakit yang dideritanya, Faniza tetap semangat dan tetap ingin menjalankan apa yang ia inginkan. Sebelumnya Faniza tergabung dalam organisasi kemahasiswaan Aspirasi dan juga kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa atau BEM di Fakultasnya.

Ketika Faniza menunjukkan tanda-tanda ketidak sehatan yang secara terus-menerus dan harus bolak balik kerumah sakit. Orangtua Faniza meminta Faniza untuk keluar dari kegiatan kemahasiswaannya di fakultas yaitu BEM.

Seiring waktu berjalan dan Faniza tidak kunjung membaik kondisi kesehatannya, orangtuanya kembali meminta Faniza untuk keluar dari organisasinya di Aspirasi. Faniza tidak mau jika harus keluar dari organisasinya di Aspirasi. Karena Faniza sudah terlanjur sayang pada Aspirasi dan orang orang yang ada di Aspirasi.

Ketika ada kerusuhan di Universitas Pamulang atau biasa disebut UnPam, Faniza ingin sekali pergi kesana dan meliput kejadian yang ada disana. Sayangnya saat kejadian tersebut Faniza sedang sakit sehingga tidak bisa pergi kesana. “Sayang banget pas aku lagi sakit kejadiannya, coba kalau enga pasti aku liput dan aku kasih hasil laporannya ke Aspirasi”.

Karena keterbatasannya tidak bisa meliput, latas Faniza menghubugi temannya yang suka fotografi untuk meliput kejadian tersebut. Sayangnya, temannya sedang tidak ada di Jakarta, ia sedang pergi keluar kota untuk urusan tertentu.

Faniza sempat berfikir untuk meminta tolong pada temannya di Aspirasi untuk meliput kejadian tersebut. Tapi setelah difikir ulang oleh Faniza takutnya lagi ada jam kuliah, sehingga Faniza mengurungkan niatnya untuk dimintai tolong pada teman-temannya di Aspirasi.

Terkadang Faniza rindu dan merasa kesepian terhadap teman-teman kuliahnya. Ingin melakukan aktifitas seperti dulu sebelum Faniza terserang penyakit lupus ini. Faniza juga sempat berfikir untuk belajar mandiri dan ingin ngekos untuk dekat dengan kampusnya.

Sayangnya hal tersebut tidak mendapat izin dari orangtuanya, karena dikhawatirkan jika terjadi apa-apa dan suatu saat penyakitnya kambuh tidak ada orang didekatnya untuk dimintai tolong. Faniza akhirnya tetap tinggal dengan kedua orangtuanya hingga kini.

Faniza berencana untuk pindah kuliah semester depan nanti, dikarenakan fasilitas kampusnya saat ini tidak memungkinkan untuk dirinya lagi. Rencananya Faniza ingin kuliah di Universitas Terbuka atau UT, tapi sayangnya sistem perkuliahan disana belajar di rumah atau belajar sendiri. Faniza tidak suka dengan sitem perkuliahan yang seperti itu, yang ada Faniza semakin merasa kesepian karena tidak ada teman yang menemani.

Harapannya saat ini cuma satu yaitu sembuh dari sakit yang dideritanya saat ini dan kembali berkumpul bersama teman temannya yang sangat ia rindukan. Faniza berencana untuk membuatkan makanan hasil masakannya sendiri. “Ka aku udah bisa masak spageti dong, nanti kalau aku udah sembuh aku masakin deh spageti buatan aku nanti aku bawa ke sekret buat dimakan bareng bareng,” ujar Faniza sambil berhayal kesembuhannya.

Wisata Murah Meriah

Setu Babakan, tempat wisata yang terletak di Selatan Kota Jakarta memang selalu ramai dikunjungi saat week day atau week and sekalipun. Tepatnya daerah Ciganjur, wisata yang satu ini wajib dikunjungi jika berkunjung ke Jakarta. Hanya membayar Rp 2000 saja untuk parkir, sudah dapat menikmati seharian penuh menimati pemandangan Setu Babakan.

Tempatnya yang sejuk, membuat siapa saja yang berkunjung ke Setu Babakan menjadi betah untuk berlama-lama di sana. Disediakan juga tempat duduk untuk para pengunjung, yang ingin bersantai sambil menikmati pemandangan. Berbagai macam makanan berjejer sepanjang Setu Babakan. Dengan kisaran harga Rp 5000 sampai Rp 15.000, sudah dapat menikmati berbagai pilihan makanan.

Wahana air juga disediakan bagi pengunjung yang ingin melihat lebih dekat Setu Babakan. Hanya membayar Rp 5000 untuk satu orangnya, sudah sangat memuaskan yang diberikan Setu Babakan ini. “Saya sering berkunjung ke sini, hampir setiap minggu karena tempatnya yang enak,” tutur Putri salah satu pengunjung Setu Babakan.

Setu Babakan terkenal akan kebudayaan Betawinya. Bahkan rumah-rumah warga sekitar Setu Babakan masih rumah adat Betawi. Setu Babakan juga terkenal akan makanan khasnya, yaitu kerak telor. Salah satu ikon dari kebudayaan Betawi yang mulai merambah ke restoran-restoran. Bahkan kerak telor tidak hanya dijumpai di Jakarta, melainkan di Pekan baru, Sumatra Barat.

Saat week and, pengunjung Setu Babakan dimanjankan dengan pagelaran kesenian dari Jakarta. Jangan heran jika berkunjung ke sana, selalu dihampiri oleh pengamen yang bermacam macam. Pengamen begitu menjamur, dari yang kecil sampai yang besar sekalipun. Pengamen silih berganti meminta upah atas lagu yang telah Mereka nyanyikan.

Virus Canggih

Ini titipan dari seseorang berinisial J.I

Flame, sebuah virus komputer yang dinyatakan paling canggih terdeteksi oleh vendor anti virus Kaspersky. Pihak atau negara mana yang membuat virus ini?

Kasperksy menyebutkan, virus ini hampir dapat dipastikan diciptakan oleh pemerintah sebuah negara. Kecanggihan virus dan pola serangannya yang menyasar negara di Timur Tengah menguatkan dugaan tersebut.


Ya, Flame memang sangat canggih. Ia dapat mengumpulkan data rahasia, mengubah setting komputer secara remote, menghidupkan mikrofon komputer untuk merekam pembicaraan, mengambil screenshot, dan menyalin pembicaraan di instant messaging. 


“Flame tidak didesain untuk mencuri uang dari akun bank. Virus ini juga berbeda dibanding tool hacksederhana dan malware yang digunakan oleh hacktivist. Jadi dengan mengesampingkan penjahat cyber danhacktivist, kami menyimpulkan virus ini kemungkinan berasal dari pihak ketiga,” tulis Alexander Gostev, periset sekuriti Kaspersky. 


Pihak ketiga yang dimaksud adalah pemerintah negara. Menimbang geografi target serangan dan kompleksitas level ancaman, tidak diragukan bahwa Flame disponsori oleh negara tertentu. 


“Sepertinya pencipta Flame mencari segala macam data intelijen – email, dokumen, pesan, diskusi di dalam lokasi sensitifi, semuanya,” tambah dia, seperti detikINET kutip dari V3, Selasa (29/5/2012).


Namun Kaspersky menolak menyebut negara mana yang dicurigai membuat Flame. Pihak Symantec yang juga meneliti virus ini membenarkan Flame disponsori pihak besar. 


Menilik target serangan yang juga menimpa Israel dan Arab Saudi, tampaknya bukan Amerika Serikat yang melakukannya karena kedua negara itu adalah sekutu dekat. Lalu negara mana?

Monumen Nasional

Monas atau monumen nasional terletak di Jakarta Pusat dibangun pada tahun 1961. Monas diarsiteki atau didesain oleh Soedarsono dan Frederich Silaban dengan konsultan Ir.Rooseno, mulai dibangun Agustus 1959, dan diresmikan 17 Agustus 1961 oleh Presiden RI Soekarno. Monas resmi dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975.

Pembagunan tugu Monas bertujuan mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terbangkitnya inspirasi dan semangat patriotisme generasi saat ini dan mendatang.

Tugu Monas yang menjulang tinggi dan melambangkan lingga (alu atau anatan) yang penuh dimensi khas budaya Bangsa Indonesia. Semua pelataran cawan melambangkan Yoni (lumbung). Alu dan lumbung merupakan alat rumah tangga yang terdapat hampir disetiap rumah penduduk pribumi Indonesia.
Lapangan Monas mengalami lima kali penggantian nama yaitu Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas. Di sekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga.(@ridwanardianto-Vivi Muninggarani)

Kebersamaan

Semester 6 ini, ada mata kuliah jurnalistik online. Sudah kebayang pasti disuruh buat kelompok dan buat blog kelompok. Perkiraan jumlah orang dalam satu kelompoknya 10, tapi begitu masuk ternyata hanya lima saja. Kebetulan denger dari yang udah ngambil mata kuliah jurnalistik online.

Dengan nama kelompok News Maks, dengan maksud berikan secara maksimal dalam pemberitaan. Terdiri dari Arief Afrizal, Alsultany, Ridwan Ardianto, Sigit Pamungkas, dan saya sendiri Vivi Muninggarani.

Saat itu, pemimpin redaksinya Ridwan Ardianto dan saya sebagai sekretaris redaksinya.  Karena memang saya perempuan sendiri, sehingga diposisikan sebagai sekretaris. Perencanaan liputan pertama, rubrik news mau diisi dengan minimnya fasilitas halte Bus Way. Tapi, yang lainnya bilang itu nanti saja. Ya sudah saya mengikuti apa kata suara terbanyak.

Menjelang perencanaan liputan ke tiga, harus memuat dalam rubrik news musibah dan kriminal. Saya terus memikirkan hal tersebut, mau diisi apa rubrik news dalam blog news maks nanti. Tapi untungnya, ada yang update status difacebook bahwa daerah lenteng agung ada bengkel nakal.

Saat itu, pemimpin redaksinya bukan lagi Ridwan melainkan Arief. Langsung saja saat malam itu deadline untuk tulisan dapat dikirim ke dosen, siangnya saya dan Ridwan pergi ke Lenteng Agung untuk mengetahui akan kebenarannya. Sayangnya saya dan Ridwan sudah mencari nama yang disebutkan distatus facebook teman tidak ada.

Matahari saat itu sedang terik-teriknya bersinar. Akhirnya saya dan Ridwan dari Lenteng Agung menuju Bintaro. Dimana minggu dini hari terjadi kebakaran disana. Saya mengetahui hal tersebut dari teman saya, yang mana pada saat itu sedang melintasi daerah Bintaro.

Adanya News Maks ini, membuat saya selalu memikirkan isi rubrik untuk selanjutnya. Setiap kali saya pergi ke suatu tempat saya selalu berharap ada kejadian yang bisa saya liput. Memikirkan dimana lagi tepat makan yang murah tapi enak. Anehnya, ada aja jalan yang diberikan Yang Maha Kuasa untuk menemukan jawaban yang saya butuhkan.

Walaupun kesininya yang aktif mengerjakan liputan hanya saya, Arief dan Ridwan, tapi kami tetap berusaha semampu kami. Tak terasa mata kuliah jurnalistik online sudah hampir berakhir, saya merasa sangat puas akan apa yang telah saya kerjakan selama ini dalam kelompok News Maks. Dukungan dari teman teman yang selalu memberi saya ide. Serta semangat yang ada untuk selalu menulis dan mengerjakan liputan dalam kelompok News Maks.

Kemeriahan Menjelang Ulang Tahun Jakarta

Karnaval yang diadakan sepanjang ruas jl Thamrin, Jakarta Pusat disambut baik oleh warga sekitar yang ingin melihat karnaval. Selama acara berlangsung, jalan tersebut ditutup untuk lalu lintas kendaraan. Kurang lebih, 300 orang jalan kaki mengelilingi jl Thamrin.

Karnaval mulai jalan dari Pemprov DKI Jakarta, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Minggu 10 juni lalu, 16.00 WIB. Peserta karnaval diawali dengan berjalan kaki. Dari Jl Medan Merdeka Selatan, peserta karnaval belok kiri ke Jl Thamrin.

Dalam rangka ulang tahun Jakarta ke 485, beragam acara telah dipersiapkan. Acara yang memang sudah ditunggu tunggu oleh warga Jakarta dan merupakan acara tahunan. Acara ini merupakan refleksi dari budaya lokal dan juga sanggar-sanggar kebudayaan yang ada di Jakarta.

Tak hanya kebudayaan Jakarta saja yang ditampilkan dalam acara tersebut, melainkan berbagai macam kebudayaan seluruh Indonesia. Hal ini merupakan bagian dari budaya nasional. Seluruh lajur Jl Thamrin dipakai oleh peserta karnaval. Masyarakat yang menonton karnaval ini juga menutupi Jl Thamrin. Warga yang menonton tampak antusias dengan berfoto-foto dengan peserta karnaval.

Hingga 16.30 WIB, karnaval masih berlangsung. Jl Thamrin arah Kota untuk putar balik para peserta karnaval sudah disiapkan. Pengendara lalu lintas yang berjalan menuju Kota hanya bisa memakai dua lajur Jl Thamrin. Karnaval ini ditonton oleh warga yang memadati pinggiran ruas jalan yang ditempuh oleh peserta karnaval. Vivi-@ridwanardianto

Harga Merakyat, Rasa Berkualitas

Jika mengingat akan makanan khas Jakarta, maka akan langsung terpikirkan kerak telor. Makanan ini memang wajib dicicipi jika berkunjung ke Jakarta. Terutama menjelang ulang tahun Jakarta, kerak telor semakin mudah dijumpai.

Awalnya si pencipta kerak telor ini, hanya mencoba mencampurkan dari berbagai bahan. Dan hasilnya ternyata enak, bahkan para tetanggapun sangat menyukainya. Dan semenjak saat itu, kerak telor menjamur diberbagai sudut kota Jakarta.

Seperti makanan khas derah lainnya, kerak telor juga tidak hanya di Jakarta saja melainkan berbagai daerah di Indonesia. Pekanbaru, Sumatra Barat merupakan salah satu daerah yang menjual kerak telor.

Rasanya yang gurih, berasal dari proses pemasakannya tanpa menggunakan minyak sedikitpun. Dengan campuran beras ketan yang direndam semalaman, lalu dicampur dengan telur, tambahkan kelapa yang telah disangrai selama tiga jam dan setelah matang taburi kembali dengan kelapa yang disangrai selama lima jam dan taburan bawang goreng.

Tidak mesti menunggu lama untuk dapat menyantap kerak telor, lima sampai 10 menit menunggu sudah dapat disantap. Pembeli, dapat memilih ingin telor ayam atau telur bebek. Harga yang ditawarkan sangat terjangkau, berkisar Rp 7000 sampai Rp 15000 sudah dapat membawa pulang kerak telor.

Jadi, tunggu apa lagi. Kerak telor dapat dibeli Stan Prj, Setu Babakan, Ragunan dan berbagai tempat lainnya.

Previous Older Entries